KAJIAN KRISTOLOGI MUALAF CENTER BALI: PERDEBATAN CERDAS ABU HANIFA DENGAN PEMUKA AGAMA

Perdebatan Abu Hanifah dengan Kaum Khawarij

Abu Hanifah pernah berdebat dengan kaum Khawarij, kita perlu mengetahui bahwa kaum Khawarij selalu mengkafirkan pelaku dosa besar karena memang kaidah mereka seperti itu. Siapapun yang melakukan dosa besar dan kafir di dunia maka ketika mati akan masuk neraka dan kekal didalamnya. Sedangkan menurut keyakinan ahli sunnah seorang mukmin yang melakukan dosa besar tidaklah kafir melainkan tetap mukmin tetapi keimanannya kurang.

Karena keimanan itu terkadang dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Contohnya meminum khamr adalah suatu dosa besar maka orang Khawarij akan mengatakan bahwa peminum khamr itu kafir. Sedangkan menurut ahli sunah akan mengatakan bahwa dia tidak kafir melainkan tetap mukmin hanya saja keimanannya kurang sehingga melakukan maksiat.

Continue reading

KAJIAN KEISLAMAN MUALAF CENTER BATU: MUKJIZAT RASULULLAH YANG PERLU KITA KETAHUI

Mukjizat itu definisinya adalah sesuatu kemampuan luar biasa diluar jangkauan manusia normal. Suatu perkara di luar kebiasaan yang dilakukan oleh Allah melalui para nabi dan rasul-Nya untuk membuktikan kebenaran kenabian dan keabsahan risalahnya.

Allah memberikan kemampuan luar biasa atau yang disebut mukjizat kepada setiap nabi dan rasul-Nya termasuk Rasulullah yang merupakan nabi dan rasul terakhir umat Islam. Berikut ini adalah beberapa dari sekian banyak kemampuan luar biasa atau mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad.

Continue reading

KAJIAN KEISLAMAN MUALAF CENTER PALU: CARA AGAR SHALAT KITA DITERIMA OLEH ALLAH

Pentingnya perintah shalat dalam Al-Qur’an

Dalam mengambil keputusan tentang urusan dunia pastinya harus bermusyawarah, tapi jika dalam urusan hal ibadah tidak semestinya bermusyawarah. Artinya kita tidak perlu bermusyawarah saat hendak melaksanakan kewajiban kita. Sebagaimana Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk menunaikan shalat 5 waktu, sehingga ketika sudah mendengar adzan maka harus segera menunaikan ibadah shalat. Coba perhatikan Al-Qur’an, didalamnya banyak ayat-ayat mengingatkan tentang shalat dan zakat (Infaq). Sebagaimana firman Allah berikut ini yang telah banyak diketahuo oleh umat Islam.

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Artinya: (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
(QS. Al-Baqarah:3)

Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Dalam ayat ini, Allah juga menjelaskan bahwa jika kita ingin menjadi bagian dari orang-orang beriman maka kita harus mengetahui “Al-Mutaqin” yang dimaksud oleh Allah. Sesungguhnya yang dimaksud adalah orang memeiliki keyakinan pada hal gaib (Allah, malaikat, surga, neraka, dan segala sesuatu yang ghaib lainnya) mereka percaya walaupun mereka tidak bisa melihat dengat matanya sendiri.

Continue reading

KAJIAN KEISLAMAN MUALAF CENTER AMBON: NASEHAT MEMBENTUK PRIBADI-PRIBADI MENUJU SYURGA

Mengatur ulang program hidup (Reset)

Pada zaman dahulu tidak ada penerangan lampu sehingga saat malam hari langit akan terlihat penuh dengan bintang-bintang. Kisah ini di riwayat oleh Bukhari mengatakan bahwa Rasulullah perna keluar di malam hari saat langit dalam keadaan terang dan bintang-bintang terlihat jelas gemerlap. Rasulullah berkata kepada para sahabat: “apa kalian melihat bintang-bintang itu?”. Kata para sahabat: “tentu sangat jelas dan terang, wahai Rasulullah”.

Rasulullah kemudian berkata: “demi dzat yang ubun-ubunku ada dalam genggamannya, demi Allah, kelak di surga akan melihat istana-istana diatas kalian seperti kalian melihat bintang-bintang dari bumi”. Lalu para sahabat bertanya: “wahai Rasulullah, apakah itu tempatnya para nabi-nabi?”. Rasulullah berkata: “bukan, itu adalah tempatnya orang-orang saleh dari umatku”.

Continue reading

KAJIAN KEISLAMAN MUALAF CENTER DEMAK: BELAJAR DARI KISAH UNTA

  • Bukti Al-Qur’an melahirkan penemu hebat

Seharusnya kita membaca Al-Qur’an secara pelan-pelan dan memahami setiap makna yang terkandung didalamnya. Sebagaimana sabahat Rasulullah yakni Umar bin Khatab yang luar biasa genius hingga kalau dibacakan suatu kitab maka akan langsung berada pada ingatannya tanpa ada pengulangan. Semua isi kitab itu rasanya sudah terekam jelas dalam ingatannya. Tetapi ketika beliau membaca Al-Qur’an maka menghabiskan waktu selama 10 tahun karena setiap membacanya akan selalu diamalkan pada tiap ayatnya.

Oleh karena itu, Al-Qur’an diturun tidak sekaligus sebagaimana Taurat dan Injil, tetapi secara beransur-ansur agar manusia dapat memahani, mengamalkan, dan mempraktikan dalam kehidupannya di dunia sebagai bekal di akhirat. Ternyata penelitian kita rehadap kebenaran Al-Qur’an memiliki hubungan dengan tingkat kekhusyukan ibadah kita. Sebagaimana dalam firman Allah berikut ini:

اَفَلَا يَنْظُرُوْنَ اِلَى الْاِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْۗ

Artinya: Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan?
(Al-Gasyiyah: 17)

Continue reading